NEWS: Etnis Lisu China Lestarikan Tradisi Busur Silang

anzhuo66.com – Jauh di pedalaman kawasan pegunungan di sepanjang perbatasan China-Myanmar, seorang warga etnis Lisu bermarga Zhang, 26 tahun, mengasah anak panah busur silang untuk bersiap berburu. 

Bagi Zhang dan warga etnis Lisu lainnya, yang kebanyakan minoritas beragama Kristen dan menghuni kawasan perbatasan, busur silang atau crossbow menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya mereka, sejak zaman 200 Sebelum Masehi.

Meski ada larangan berburu yang telah berlaku selama satu dekade, penerapan hukum tidak ketat hingga Zhang dan kawan-kawannya masih bisa berburu unggas dan hewan pengerat. 

Secara teknis, warga etnis Lisu harus mempunyai izin menggunakan busur silang, yang diatur oleh berbagai perkumpulan olahraga busur silang setempat.

Seiring dengan makin banyak generasi muda yang pindah ke perkotaan untuk bekerja, Cha Hairong, ketua Asosiasi Busur Silang Kotapraja Liuku, Kota Lushui, khawatir budaya ini akan punah.

Cha ingin melestarikan tradisi ini dengan mempromosikan memanah dengan menggunakan busur silang sebagai olahraga dan menarik penggemar baru kegiatan ini, di luar Lembah Sungai Nu.

“Budaya busur silang masyarakat kami harus masuk Pertandingan Olahraga China. Harus masuk Asian Games. Harus masuk Olimpiade, agar seluruh masyarakat dunia memahami budaya kami,” kata Cha. 

Pemerintah Kota Lushui mengatakan pihaknya berkomitmen untuk melestarikan budaya olahraga busur silang.

Berbagai turnamen busur silang menawarkan hadiah uang tunai telah diadakan beberapa tahun belakangan untuk mendorong minat terhadap olahraga ini. 

Beberapa peserta menikmati persahabatan dalam berbagai acara ini.

“Ini waktu bagi kami untuk datang kemari berbincang dan saling bertukar cerita,” kata Zuo Zhenfu, 27 tahun, yang menghadiri turnamen busur silang pada akhir Maret.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *