NEWS: Apakah Pendalaman, Analisa Postingan Media Sosial Dapat Cegah Terulangnya Pembantaian?

anzhuo66.com – Dalam beragam komentar dan postingan, Nikolas Cruz, 19, terduga penembakan di sebuah SMA pada hari Valentine di Florida, tampaknya telah mengisyaratkan niatnya untuk menyakiti orang lain.

Saya ingin “menembaki orang-orang dengan senapan AR-15,” seseorang dengan nama Nikolas Cruz menulis di satu tempat.  “Saya ingin mati dalam pertempuran membunuh …. Banyak orang.”

Saat para penyelidik mencoba untuk menyatukan apa yang mengarah ke penembakan di sekolah yang menyebabkan tewasnya 17 orang dan melukai banyak orang lainnya, mereka menguji dengan seksama aktivitas media sosial terduga, selain informasi lain tentangnya.

Fokus pada jejak digital Cruz menyikapi sebuah pertanyaan tentang penegakan hukum, yang telah dipikirkan para ilmuwan sosial dan masyarakat secara luas yaitu: Apabila ada orang yang mengamati semua postingannya, apakah korban jiwa ini dapat dicegah?

FBI dihubungi tentang postingan di media sosial dimana sang terduga penembak mengatakan ia ingin menjadi “penembak di sekolah yang profesional.”

Namun, meskipun nama pengguna yang berkomentar aalah “Nikolas Cruz”- nama yang sama dengan terduga penembakan – FBI tidak dapat mengidentifikasi orang yang memposting di media sosial, menurut Associated Press.

Namun bagaimana apabila algoritma memungkinkan penyaringan terhadap semua postingan dan komentar Cruz agar mendapat perhatian dari penegak hukum?

Pendalaman Data

Di zaman dimana data dapat diuraikan dan dianalisa untuk memprediksi lokasi yang paling membutuhkan obat flu pekan depan atau sepatu mana yang akan jadi paling populer di Amazon besok, beberapa orang merasa heran mengapa tidak ada penggunaan kecerdasan buatan yang lebih besar untuk menyaring media sosial sebagai usaha untuk menanggulangi kejahatan.

“Kita butuh semua perangkat yang dapat kita peroleh untuk mencegah agar tradegi seperti ini tidak terulang,” ujar Sean Young, direktur eksekutif di University of California Institute for Prediction Technology.

“Ilmunya ada tentang cara untuk memanfaatkan media sosial untuk menemukan dan membantu orang dengan kebutuhan psikologis,” ujarnya.  “Saya percaya manfaatnya jauh melebih risikonya, jadi saya kira penting sekali untuk memanfaatkan media sosial sebagai alat pencegahan.”

Meskipun film Minority Report tahun 2002 telah membahas, tentang polisi yang berhasil menangkap para calon pembunuh sebelum mereka beraksi atas dasar pengetahuan yang diberikan oleh seorang cenayang yang dikenal sebagai “precogs,” gagasan agar polisi dapat menganalisa data untuk menemukan orang yang bersiap untuk mencelakakan orang lain masih menjadi suatu skenario yang berada di luar jangkauan, menurut para pakar.

Pengawasan Prediktif

Kantor-kantor kepolisian semakin mengarahkan aktivitasnya ke “pengawasan prediktif,” yang melibatkan penggunaan data set berukuran besar dan menggunakan algoritma untuk memperkirakan kejahatan potensial dan kemudian mengerahkan kekuatan kepolisian ke daerah tersebut.  Satu potensi harta tersembunyi terkait data adalah media sosial, yang seringkali bersifat publik dapat mengindikasikan apa yang sedang didiskusikan oleh orang di saat nyata dan berdasarkan lokasi.

Namun demikian, pengawasan prediktif, menghadapi tantangan terkait pernyataan terkait etika apakah kumpulan data dan algoritma memiliki kandungan bias, khususnya pada kelompok minoritas.

Sebuah studi di Los Angeles bertujuan untuk mengamati apakah postingan media sosial dapat membantu polisi memperkirakan dimana mereka harus mengerahkan sumberdayanya untuk menghentikan kejahatan atas dasar kebencian.

“Dengan dana yang memadai dan akses data tanpa hambatan dan tautan, saya dapat melihat bagaimana sebuah sistem dapat dibuat dengan pembelajaran mesin dapat mengidentifikasi pola-pola dalam teks [ancaman, kondisi emosional] dan gambar-gambar [senjata] yang mengindikasikan peningkatan risiko,” ujar Matthew Williams, direktur dari laboratorium ilmu data sosial dan lembaga penelitian inovasi data di Cardiff University. Wales. Ia adalah salah satu peneliti yang melakukan studi tentang Los Angeles.

“Namun kekhawatiran tentang pelanggaran etika akan menghambat terciptanya sistem seperti itu, kecuali mereka yang diawasi memberikan izin, namun kemudian sebuah sistem dapat saja diakali.”

Arjun Sethi, seorang profesor hukum dari Georgetown, mengatakan sulit sekali untuk memisahkan pengawasan prediktif dari cara-cara yang cenderung mendiskriminasi secara rasial,” ujarnya.

Memanfaatkan postingan Facebook

Namun demikian, potensinya tetap ada, dengan program yang tepat, mungkin saja untuk memisahkan seseorang yang mengisyaratkan untuk meminta tolong dari semua keriuhan di media sosial.

Sebuah program baru di Facebook berusaha untuk menggabungkan bidang pembelajara mesin untuk menolong orang yang sedang berpikir untuk bunuh diri.  Di antara jutaan postingan setiap hari, Facebook dapat menemukan postingan-postingan dari mereka yang berpotensi untuk bunuh diri atau berisiko untuk menyakiti diri sendiri – bahkan apabila tak seorangpun di lingkaran sosial Facebook melaporak postingan orang itu ke perusahaan.  Dalam pembelajaran mesin, komputer dan algoritma mengumpulkan informasi tanpa diprogram untuk melakukannya.

Sistem Facebook mengandalkan pada teks, namun Mark Zuckerberg, Presiden Direktur perusahaan tersebut, mengatakan bahwa perusahaan dapat menambahkan foto dan video yang menjadi perhatian bagi tim Facebook.

Kemampuan untuk memperkirakan apabila seseorang akan menyakiti dirinya sendiri atau orang lain tidak mudah dan menimbulkan dilema etika, namun, ujar Young dari UCLA, postingan-postingan media sosial seseorang yang menimbulkan keresahan dapat menjadi peringatan yang harus diawasi.  [ww]

NEWS: Apakah Konsumen Siap Coba Teknologi Augmented Reality?

anzhuo66.com – Anda mungkin telah merasakan teknologi “augmented reality,” paduan antara dunia maya dan dunia nyata, saat anda memburu monster yang muncul di layar di lokasi-lokasi di dunia nyata dalam sensasi permainan yang muncul tahun lalu, “Pokemon Go.”

Aplikasi augmented reality yang akan datang akan mengikuti prinsip yang sama yang menempelkan gambar-gambar dunia maya di atas lingkungan dunia nyata.  Sehingga teknologi ini memungkinkan ada melihat bagaimana perabotan yang ingin anda beli terlihat di ruang keluarga sungguhan sebelum anda membeli perabotan itu, contohnya.

Meskipun “Pokemon Go” tidak membutuhkan perangkat keras atau perangkat lunak khusus, aplikasi Augmented Reality yang lebih canggih akan membutuhkan perangkat keras atau perangkat lunak.  Baik Google maupun Apple telah mengembangkan teknologi yang memungkinkan hal itu.  Teknologi Augmented Reality milik Google sudah tersedia pada telepon pintar berbasis Android yang diproduksi oleh Lenovo dan Asus.  Hari Selasa, Google mengumumkan rencana untuk membawa teknologi Augmented Reality ke lebih banyak lagi model telepon pintar, termasuk model telepon produksi Samsung yang populer yaitu S8 dan Pixel produksi Google, meskipun perusahaan itu tidak memberikan jadwal yang pasti di luar janji untuk memperbaharui sistem operasi menjelang akhir tahun.

Hasilnya, Apple mungkin akan mendahului karena perusahaan itu telah menerapkan teknologi Augmented Reality ke semua model iPhone dan iPad terbaru pada pembaharuan perangkat lunak yang diharapkan akan didistribusikan bulan depan yaitu, iOS 11.  Ratusan juta alat yang siap menerapkan teknologi Augmented Reality tiba-tiba akan berada di tangan konsumen.

Namun berapa banyak orang yang akan siap untuk mencoba teknologi Augmented Reality?

Aplikasi-aplikasi awal

Dari lusinan aplikasi yang didemonstrasikan baru-baru ini untuk perangkat Android dan iPhones, aplikasi yang paling menjanjikan adalah aplikasi perabot rumah tangga.

Dari katalog atau laman web, tidak mudah untuk mengatakan apabila sebuah sofa atau ranjang akan muat di ruangan anda.  Bahkan apabila perabot itu muat, apakah akan ada cukup ruang untuk perabot yang lain sehingga orang dapat berlalu lalang dengan mudah?

Dengan teknologi Augmented Reality, anda dapat pergi ke ruang keluarga atau ruang tidur dan menambahkan benda yang rencakan untuk beli.  Telepon pintar anda akan memetakan dimensi ruangan anda dan menyesuaikan skala benda maya itu secara otomatis; anda tidak perlu alat pengukur manual.  Toko perabot online Wayfair telah memiliki aplikasi WayfairView untuk sistem operasi Android, sementara Ikea mengeluarkan aplikasi untuk sistem operasi Apple.  Wayfair menyatakan pihaknya sedang menjajaki untuk membuat aplikasi yang dapat juga digunakan pada iPhones dan iPads.

Dan untuk yang sedang bermain-main, Holo untuk Android memungkinkan ada berpose di sisi harimau dan tokoh kartun maya juga.  Untuk iPhones dan iPads, Food Network akan memungkinkan ada menambahkan hiasan dan taburan di atas cupcake maya.  Anda juga dapat menambahkan balon dan mata – siapa yang melakukannya? – dan membagikan hasil ciptaannya di media sosial.

Permainan dan pendidikan juga adalah kategori yang populer.  Pada perangkat besutan Apple, sebagai pelengkap aplikasi “The Walking Dead” keluaran AMC dapat menciptakan zombie yang tampak berada di sebelah orang sungguhan sebagian bagian dari kreasi foto anda.  Pada sistem operasi Android, berbagai aplikasi dibuat untuk pelajaran di kelas yang memungkinkan para siswa menjelajahi sistem tata surya, gunung berapi, dan banyak lagi.

Lebih dari realitas maya

Virutal Reality adalah teknologi yang membuat anda terbawa ke dunia yang berbeda, ketimbang mencoba untuk memadukan dunia nyata dengan gambar-gambar maya, sebagaimana yang dilakukan oleh teknologi Augmented Reality.  Seharusnya Virtual Reality menjadi hal terhebat yang muncul selanjutnya, namun tampaknya aplikasi teknologi ini hanya memiliki penerapan yang terbatas di luar industri permainan dan lingkungan industri.  Anda perlu perangkat headset, yang dapat membuat anda merasa pusing bila Anda menggunakannya terlalu lama.

Virtual Reality memiliki kekurangan dari segi elemen interaksi sosial.  Begitu anda mengenakan perangkat headset, interaksi anda dengan orang lain di sekitar anda akan lenyap.  Bagian dari daya tarik “Pokemon Go” adalah kemampuannya untuk bertemu dengan orang asing yang juga sedang memainkan permainan yang sama.  Augmented Reality dapat memungkinkan kita untuk berbagi pengalaman, saat sesama teman melihat ke layar telepon anda.

Antara ketersediaan dan pemanfaatan

Meskipun Augmented Reality memiliki prospek yang lebih baik ketimbang Virtual Reality, harus ada “aplikasi hebat” yang dibutuhkan oleh semua orang, dengan cara sama saat telepon pintar menjadi sesuatu kebutuhan untuk keperluan navigasi dan potret memotret sehari-hari.

Sebaliknya, orang baru akan menemukan teknologi Augmented Reality sejalan dengan berjalannya waktu, mungkin beberapa tahun ke depan.  Seseorang yang sedang merenovasi rumah atau pindah mungkin akan menemukan aplikasi perabot rumah tangga.  Orang tua baru mungkin akan menemukan aplikasi pendidikan.  Orang-orang itu mungkin akam berusaha untuk menemukan lebih banyak lagi aplikasi Augmented Reality untuk dicoba.  Namun sekedar mendengar ketersediaan Augmented Reality bisa jadi tidak cukup untuk membuat orang mencoba.

Bayangkan sistem pembayaran lewat telepon pintar.  Sebagian besar telepon pintar saat ini akan memiliki kemampuan tersebut, namun orang masih cenderung untuk menggunakan kartu debit atau kartu kredit saat berbelanja.  Tidak diragukan lagi lebih banyak orang yang akan mencoba pembayaran lewat telpon pintar dan lebih banyak lagi pengecer yang akan menerima sistem pembayaran demikian, namun untuk menjadi sesuatu yang mudah ditemukan rasanya masih jauh.

Sama halnya dengan Augmented Reality, butuh waktu hingga teknologi ini benar-benar dapat diterima masyarakat.  [ww/au]