NEWS: Operasi Teritorial TNI Bangun 71 Unit Rumah Bagi Warga Tidak Mampu Di Poso, Sulawesi Tengah

anzhuo66.com – Operasi Teritorial TNI Sintuwu Maroso di Poso Sulawesi Tengah tidak saja bertujuan untuk menciptakan stabilitas keamanan, tetapi juga pembangunan masyarakat lewat pelatihan dan penyuluhan untuk tetap mengobarkan semangat nasionalisme, dan melanjutkan pembangunan fisik. Ini dinilai penting untuk mengubah stigma Poso.

NEWS: Rumah Hasil Mesin Cetak 3-D Tawarkan Solusi Cepat dan Terjangkau Bagi Kalangan Tidak Mampu di Seluruh Dunia

anzhuo66.com – Bayangkan membangun bangunan rumah yang kuat dengan harga terjangkau hanya dalam jangka waktu 12 jam.  Target tersebut saat ini tampak layak dipertimbangkan dengan bantuan mesin cetak 3-D.  Sebuah rumah yang dibuat dengan mesin cetak 3-D diperagakan baru-baru ini di Austin, Texas, selama perhelatan konferensi teknologi dan festival musik South by Southwest (SXSW) pekan ini.

“Jadi saya saat ini berdiri di depan rumah permanen hasil mesin cetak 3-D yang pertama di Amerika,” ujar Jason Ballard, salah satu pendiri ICON, sebuah perusahaan konstruksi yang berpusat di Austin yang memanfaatkan robotika, perangkat lunak, dan bahan-bahan canggih.

Purwarupa rumah dengan dua kamar tidur juga memiliki ruang yang dapat digunakan seagai ruang keluarga/makan, selain juga tiga ruangan yang dapat diubah menjadi kamar tidur, ruang studi, atau sebuah kamar mandi, tergantung dimana lokasi rumah tersebut dan sumberdaya yang tersedia.  Ukuran rumah ini akan berkisar antara 56 meter persegi hingga 74 meter persegi.

Dengan ukuran 35 meter persegi, purwarupa rumah ini berhasil dicetak di kawasan dekat pusat kota Austin saat terjadi hujan badai, saat angin yang bertiup kuat membawa debu di kawasan itu, ujar Ballard.

Rumah hasil mesin cetak 3-D untuk kalangan tidak mampu

Targetnya adalah untuk mencetak rumah di negara-negara berkembang dalam kondisi cuaca ekstrim dan di tengah ketidakpastian pasokan listrik dan air minum.

“Kami sungguh-sungguh bekerja dengan keluarga dari golongan paling miskin di dunia dimana mereka tidak mempunyai tempat tinggal,” ujar Brett Hagler, pendiri dan direktur utama organisasi nirlaba New Story.  Tujuannya adalah untuk memperkenalkan rumah hasil mesin cetak 3-D yang pertama di Amerika Latin dan kemudian dikembangkan ke negara-negara berkembang lainnya.  Hagler menyatakan bahwa lewat inovasi dan pemanfaatan teknologi baru akan mengubah cara rumah dibangun untuk memenuhi kebutuhan akan perumahan di seluruh dunia.

“Skala permasalahan yang kami hadapi begitu besar, ada sekitar satu miliar orang yang tidak memiliki satu dari kebutuhan manusia yang paling mendasar, yaitu tempat tinggal yang aman,” ujarnya.

“Yang benar-benar kami butuhkan untuk skala permasalahan yang ada adalah pertumbuhan eksponensial,” imbuhnya, “dan ini harus dicapai lewat penurunah biaya yang secara signifikan, meningkatnya kecepatan tanpa mengorbankan kualitas bangunan.”

ICON mengatakan ukuran mesin cetak 3-D adalah tinggi 4,5 meter, lebar 9 meter dan terbuat dari aluminum berbobot ringan.  ICON menciptakan alat ini, perangkat lunaknya, dan bahan semen unik yang disebutnya sebagai “materi agregat dengan sifat semen berukuran kecil dengan hak kepemilikan” yang digunakan untuk mencetak rumah.  Mesin cetak 3-D ini mudah dipindah-pindahkan karena rumah tersebut dicetak langsung di lokasi.  Ballard menyatakan ia dapat membayangkan banyaknya mesin cetak 3-D yang tersebar di seluruh dunia yang digunakan untuk membangun rumah.

“Sebenarnya jauh lebih mudah untuk membangun mesin cetak ini ketimbang membangun rumah,” ujar Ballard.

​Lebih cepat dan lebih terjangkau

“Kami mengoperasikan mesin cetak ini dalam seperempat kecepatannya untuk mencetak rumah ini, dan kami mampu menyelesaikan proses pencetakan rumah kurang dari 48 jam waktu pencetakan,” ujar Ballard.

Dengan kecepatan penuh, prosesnya dapat diselesaikan secepat 12 jam untuk mencetak sebuah rumah.  Membangun rumah tradisional New Story butuh waktu 15 hari.

“Ketimbang waktu satu tahun yang dibutuhkan untuk membangun sebuah lingkungan tempat tinggal, kami dapat melakukannya hanya dalam waktu beberapa bulan,” ujar Hagler.

Rumah hasil mesin cetak 3-D juga biayanya lebih rendah

“Rumah New Story gaya tradisional harganya sekitar $ 6.500 per rumah.  Kami yakin sejalan berjalannya waktu, kami dapat membangun sebuah rumah baru kurang dari $ 4.000,” ujar Hagler.

Ballard mengatakan bahan yang digunakan untuk mencetak rumah merupakan pencapaian lainnya dari cara inovatif untuk membangun rumah.

“Kami yakin kenyamanan dan dinamika energi dari bangunan ini sesungguhnya sekali lagi akan lebih baik dibanding bangunan konvensional.  Rumah-rumah ini harus lebih nyaman dan harus menggunakan energi yang lebih rendah agar tetap nyaman.”

Ballard mengatakan rumah hasil mesin cetak 3-D, “adalah perubahan paradigma sepenuhnya dengan keunggulan yang luar biasa dari segi kecepatan, keterjangkauan, daya tahan, kesinambungan, pengurangan limbah, sebutkan apa saja.  Ini bukanlah sebuah perbaikan kecil.  Ini adalah perubahan revolusioner yang saya kira akan menciptakan kejutan di kalangan industri.”

Teknologi bangunan baru akan diperkenalkan pada kalangan paling miskin di dunia dan mereka yang kurang mendapatkan pelayanan dahulu.  New Story bekerjasama dengan LSM-LSM lokal, pemerintah, dan keluarga-keluarga untuk mendanai rumah-rumah ini.  LSM-LSM berencana untuk awalnya mencetak rumah di El Salvador tahun ini.

Targetnya adalah untuk menciptakan rumah permanen hasil cetak mesin cetak 3-D dan lingkungan perumahan di negara-negara berkembang yang dapat bertahan selama beberap generasi.  [ww]

NEWS: PBB Desak Pemberian Hak Dasar Bagi Jutaan Orang Tanpa Kewarganegaraan

anzhuo66.com – Badan Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) menghimbau pemerintah memberikan hak-hak dasar kewarganegaraan kepada jutaan orang tanpa kewarganegaraan yang mengalami diskriminasi, pengucilan dan penganiayaan.

UNHCR menyerukan himbauan ini pada permohonan ini pada peringatan ketiga kampanye global 10 tahun untuk mencegah, mengurangi dan memberantas warga tanpa kewarganegaraan.

UNHCR melaporkan ada lebih dari 3 juta orang tanpa kewarganegaraan di seluruh dunia dengan sekitar 75 persen di antaranya kelompok minoritas. Kampanye “IBelong” badan PBB itu untuk mengakhiri status tanpa kewarganegaraan menyoroti kenyataan bahwa orang-orang ini tidak menjadi warga negara di manapun.

Carol Batchelor, Direktur Divisi Perlindungan Internasional UNHCR,  mengatakan bahwa orang-orang yang tidak memiliki kewarganegaraan adalah orang-orang yang paling kehilangan: “Jika kita hidup di dunia ini tanpa kewarganegaraan, kita tidak memiliki identitas. Kita tidak memiliki dokumen. Tanpa hak, hak yang bahkan kita anggap remeh seperti berkumpul di sini hari ini, punya pekerjaan, pendidikan, tahu bahwa anak kita berhak berada di suatu tempat.”

Kemajuan telah dibuat dalam mengurangi situasi tanpa kewarganegaraan sejak kampanye “IBelong” dimulai tiga tahun lalu. Ribuan orang tanpa kewarganegaraan telah diberi kewarganegaraan di tempat-tempat seperti Thailand, Asia Tengah, Rusia, Kenya dan Afrika Barat. Tapi pekerjaan masih jauh dari selesai.

Rohingya mewakili kelompok minoritas tanpa kewarganegaraan terbesar di dunia. Meskipun mereka telah tinggal di Myanmar selama beberapa generasi, pemerintah tidak menganggap mereka sebagai warga negara. Mereka dipaksa untuk tinggal di masyarakat pinggiran dan tidak diberi hak dasar yang dinikmati oleh warga negara Myanmar lainnya. Ratusan ribu orang Rohingya telah melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh untuk menghindari kekerasan dan penganiayaan.

UNHCR mendesak semua negara untuk memfasilitasi naturalisasi bagi kelompok minoritas tanpa kewarganegaraan yang memenuhi persyaratan kependudukan tertentu, memberikan kewarganegaraan kepada anak-anak di negara kelahiran mereka, dan menghapuskan hukum dan praktek yang mendiskriminasikan orang-orang berdasarkan etnis dan ras. [my]

 

NEWS: Larangan Bertelpon bagi Penyebrang Jalan di Hawaii

anzhuo66.com – Polisi di Hawaii akan menilang orang yang tertangkap asyik dengan perangkat digital saat menyebrang jalan di ibu kota negara bagian itu, Honolulu.

UU tersebut yang diloloskan bulan Juli lalu, mulai berlaku pekan ini, yang membuat Honolulu menjadi kota besar pertama di AS untuk meloloskan UU semacam itu.

Satu-satunya pengecualian bagi UU Kelalaian Pejalan Kaki ini adalah penggunaan perangkat untuk menelpon nomor 911 untuk melaporkan keadaan darurat.

Denda bagi pelanggaran ini akan berkisar antara $ 15 hingga $ 99 untuk pelaku yang tertangkap kedua kalinya.

Para pejalan kaki masih diperbolehkan untuk berbicara di telepon saat menyebrabg jalan, selama mereka memperhatikan keadaan sekitar.

Dewan Keselamatan Nasional menambahkan “kelalaian saat berjalan kaki” pada daftar tahunan terkait risiko terjadinya cedera pada tahun 2015.

Menurut sebuah studi pada Jurnal Studi Keselamatan, pada tahun 2015, sebanyak 400 pejalan kaki yang perhatiannya teralihkan oleh telepon mereka mengalami cedera di Amerika Serikat setiap tahunnya antara tahun 2000 hingga 2007.  Namun setelah telepon pintar memasuki pasaran, angka-angka cedera malah semakin meningkat.  Studi tersebut menemukan sekitar 1.300 pejalan kaki mengalami cedera pada tahun 2012.  [ww]

NEWS: Amerika Mungkin Tambah Sanksi-Sanksi Baru Bagi Pejabat Venezuela

anzhuo66.com – Pemerintah Amerika memperingatkan kemungkinan pengenaan saksi-sanksi baru atas para pejabat Venezuela, karena presiden Nicolas Maduro terus mendorong perombakan UUD ditengah krisis politik yang meningkat dan demonstrasi tiap hari minta supaya ia mengundurkan diri.

Pejabat tinggi departemen LN Amerika menyatakan “keprihatinan mendalam” hari Selasa atas maksud Maduro mengadakan konvensi konstitusi sambil ia berusaha menguasai kemarahan rakyat karena buruknya perekonomian di negeri itu.

Tampaknya presiden Maduro sekali lagi berusaha mengubah aturan permainan, kata Michael Fitzpatrick, wakil menteri LN urusan belahan bumi bagian barat.

Tokoh-tokoh oposisi menyerukan diadakannya pawai besar hari Rabu di Caracas untuk memperkuat tekanan atas Maduro yang telah berlangsung satu bulan tanpa henti. Hari Selasa, para demonstran mengacaukan lalulintas dengan menaruh pecahan-pecahan beton dan potongan-potongan besi di jalan-jalan, dan membakar tumpukan sampah.

Presiden Maduro minggu ini menandatangani dekrit untuk menyusun kembali UUD Venezuela yang dibuat oleh pendahulunya mendiang presiden Hugo Chavez.[ii]