NEWS: Kanker Usus Besar Dapat Dicegah dan Diobati

anzhuo66.com – Meskipun kanker adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia, kanker usus besar adalah salah satu kanker yang dapat dicegah, ujar World Health Organization.

Kolon juga dikenal sebagai usus besar.  Ini adalah bagian dari sistem pencernaan.  Kanker usus besar terkait dengan pola makan, predisposisi genetik, dan usia.  Di AS, 1 dari 23 orang suatu hari akan diberi tahu kalau mereka mengidap kanker usus besar.

Michele Alexander didiagnosa kanker usus besar saat usianya 53 tahun.

“Masih berapa lama usia saya? Anak perempupan saya masih berusia 24 tahun.  Anda tahu, usianya masih panjang.  Berapa lama waktu yang masih tersedia bagi saya untuk mendampinginya? Pikiran-pikiran semacam itu bersliweran di kepala anda,” ujar Alexander.

Kebanyakan dapat dicegah

Dr. Zihao Wu dari the University of Missouri Health Care mengatakan jenis kanker ini sebagian besar dapat dicegah.

“Mayoritas kanker usus besar bekembang dari polip jinak, dan butuh sekitar 10 hingga 15 tahun,” ujarnya.  “Dan apabila polip ini berhasil ditemukan dan diangkat, anda tidak akan mengidap kanker usus besar, jadi penting bagi anda untuk melakukan skrining untuk mencegah kanker.”

Kendati diagnosa baginya mengerikan, semangat Alexander untuk ikut balap mobil membantunya untuk mengatasi penderitaannya.  Pembalap favoritnya adalah Carl Edwards, dan ia sudah membeli tiket dimana Carl Edwards ikut berlomba.  Saat seseorang berbagi kisah tentang Alexander kepada Carl Edwards, ia menelponnya.

“Saya katakan, ‘Saya tahu ada lelang di sini dimana saya dapat ikut serta agar saya dapat berkendara di samping ada sebagai pengenalan pengemudi, dan tekad saya adalah untuk memenangkan lelang itu,’” ujarnya … Ujar Carl kepada Alexander, ‘Tidak perlu ikut lelang.  Anda cukup datang ke sini, saya akan ajak anda berkendara bersama saya.’”

Enam pekan setelah pembedahan untuk mengangkat kanker di usus besarnya, Alexander mendapat kesempatan untuk berkendara bersama pembalap idamannya.

“Oh, benar-benar suatu kebahagian.  Ini adalah perlombaan impian saya, dan saya berhasil melintasi garis akhir sebagai pemenang,” ujarnya.

Gaya hidup sehat dapat membantu

Wu menyatakan sikap Alexander sangat membantu.

“Ia ingin sembuh.  Ia memiliki keinginan kuat untuk sembuh, dan saya kira hal itu penting sekali,” ujarnya.

Para dokter mengatakan anda dapat mencegah kanker usus besar apabila anda banyak makan sayur, ganum utuh, dan sayur serta kacang polong, yang mengandung serat tinggi.  Latihan secara teratur juga membantu dan apabila anda seorang perokok, berhentilah.

Dan yang paling penting, lakukan skrining secara reguler mulai usia 50 atau lebih awal apabila ada memiliki riwayat keluarga.

Apabila kanker usus besar terdiagnosa pada tahap dini, the World Health Organization mengatakan 90 persen pasien mampu bertahan paling tidak dalam jangka lima tahun, dibandngkan dengan mereka yang terdiagnosa pada tahap lanjut.

Dua tahun setelah pembedahan, Alexander masih terbebas dari kanker dan masih tetap menggemari balapan mobil.  [ww]

NEWS: Apakah Pendalaman, Analisa Postingan Media Sosial Dapat Cegah Terulangnya Pembantaian?

anzhuo66.com – Dalam beragam komentar dan postingan, Nikolas Cruz, 19, terduga penembakan di sebuah SMA pada hari Valentine di Florida, tampaknya telah mengisyaratkan niatnya untuk menyakiti orang lain.

Saya ingin “menembaki orang-orang dengan senapan AR-15,” seseorang dengan nama Nikolas Cruz menulis di satu tempat.  “Saya ingin mati dalam pertempuran membunuh …. Banyak orang.”

Saat para penyelidik mencoba untuk menyatukan apa yang mengarah ke penembakan di sekolah yang menyebabkan tewasnya 17 orang dan melukai banyak orang lainnya, mereka menguji dengan seksama aktivitas media sosial terduga, selain informasi lain tentangnya.

Fokus pada jejak digital Cruz menyikapi sebuah pertanyaan tentang penegakan hukum, yang telah dipikirkan para ilmuwan sosial dan masyarakat secara luas yaitu: Apabila ada orang yang mengamati semua postingannya, apakah korban jiwa ini dapat dicegah?

FBI dihubungi tentang postingan di media sosial dimana sang terduga penembak mengatakan ia ingin menjadi “penembak di sekolah yang profesional.”

Namun, meskipun nama pengguna yang berkomentar aalah “Nikolas Cruz”- nama yang sama dengan terduga penembakan – FBI tidak dapat mengidentifikasi orang yang memposting di media sosial, menurut Associated Press.

Namun bagaimana apabila algoritma memungkinkan penyaringan terhadap semua postingan dan komentar Cruz agar mendapat perhatian dari penegak hukum?

Pendalaman Data

Di zaman dimana data dapat diuraikan dan dianalisa untuk memprediksi lokasi yang paling membutuhkan obat flu pekan depan atau sepatu mana yang akan jadi paling populer di Amazon besok, beberapa orang merasa heran mengapa tidak ada penggunaan kecerdasan buatan yang lebih besar untuk menyaring media sosial sebagai usaha untuk menanggulangi kejahatan.

“Kita butuh semua perangkat yang dapat kita peroleh untuk mencegah agar tradegi seperti ini tidak terulang,” ujar Sean Young, direktur eksekutif di University of California Institute for Prediction Technology.

“Ilmunya ada tentang cara untuk memanfaatkan media sosial untuk menemukan dan membantu orang dengan kebutuhan psikologis,” ujarnya.  “Saya percaya manfaatnya jauh melebih risikonya, jadi saya kira penting sekali untuk memanfaatkan media sosial sebagai alat pencegahan.”

Meskipun film Minority Report tahun 2002 telah membahas, tentang polisi yang berhasil menangkap para calon pembunuh sebelum mereka beraksi atas dasar pengetahuan yang diberikan oleh seorang cenayang yang dikenal sebagai “precogs,” gagasan agar polisi dapat menganalisa data untuk menemukan orang yang bersiap untuk mencelakakan orang lain masih menjadi suatu skenario yang berada di luar jangkauan, menurut para pakar.

Pengawasan Prediktif

Kantor-kantor kepolisian semakin mengarahkan aktivitasnya ke “pengawasan prediktif,” yang melibatkan penggunaan data set berukuran besar dan menggunakan algoritma untuk memperkirakan kejahatan potensial dan kemudian mengerahkan kekuatan kepolisian ke daerah tersebut.  Satu potensi harta tersembunyi terkait data adalah media sosial, yang seringkali bersifat publik dapat mengindikasikan apa yang sedang didiskusikan oleh orang di saat nyata dan berdasarkan lokasi.

Namun demikian, pengawasan prediktif, menghadapi tantangan terkait pernyataan terkait etika apakah kumpulan data dan algoritma memiliki kandungan bias, khususnya pada kelompok minoritas.

Sebuah studi di Los Angeles bertujuan untuk mengamati apakah postingan media sosial dapat membantu polisi memperkirakan dimana mereka harus mengerahkan sumberdayanya untuk menghentikan kejahatan atas dasar kebencian.

“Dengan dana yang memadai dan akses data tanpa hambatan dan tautan, saya dapat melihat bagaimana sebuah sistem dapat dibuat dengan pembelajaran mesin dapat mengidentifikasi pola-pola dalam teks [ancaman, kondisi emosional] dan gambar-gambar [senjata] yang mengindikasikan peningkatan risiko,” ujar Matthew Williams, direktur dari laboratorium ilmu data sosial dan lembaga penelitian inovasi data di Cardiff University. Wales. Ia adalah salah satu peneliti yang melakukan studi tentang Los Angeles.

“Namun kekhawatiran tentang pelanggaran etika akan menghambat terciptanya sistem seperti itu, kecuali mereka yang diawasi memberikan izin, namun kemudian sebuah sistem dapat saja diakali.”

Arjun Sethi, seorang profesor hukum dari Georgetown, mengatakan sulit sekali untuk memisahkan pengawasan prediktif dari cara-cara yang cenderung mendiskriminasi secara rasial,” ujarnya.

Memanfaatkan postingan Facebook

Namun demikian, potensinya tetap ada, dengan program yang tepat, mungkin saja untuk memisahkan seseorang yang mengisyaratkan untuk meminta tolong dari semua keriuhan di media sosial.

Sebuah program baru di Facebook berusaha untuk menggabungkan bidang pembelajara mesin untuk menolong orang yang sedang berpikir untuk bunuh diri.  Di antara jutaan postingan setiap hari, Facebook dapat menemukan postingan-postingan dari mereka yang berpotensi untuk bunuh diri atau berisiko untuk menyakiti diri sendiri – bahkan apabila tak seorangpun di lingkaran sosial Facebook melaporak postingan orang itu ke perusahaan.  Dalam pembelajaran mesin, komputer dan algoritma mengumpulkan informasi tanpa diprogram untuk melakukannya.

Sistem Facebook mengandalkan pada teks, namun Mark Zuckerberg, Presiden Direktur perusahaan tersebut, mengatakan bahwa perusahaan dapat menambahkan foto dan video yang menjadi perhatian bagi tim Facebook.

Kemampuan untuk memperkirakan apabila seseorang akan menyakiti dirinya sendiri atau orang lain tidak mudah dan menimbulkan dilema etika, namun, ujar Young dari UCLA, postingan-postingan media sosial seseorang yang menimbulkan keresahan dapat menjadi peringatan yang harus diawasi.  [ww]