NEWS: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,06% di Kuartal Ketiga

anzhuo66.com – Ekonomi Indonesia tumbuh 5,06 persen pada kuartal ketiga 2017, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal pertama dan kedua yang masing-masing mencapai 5,01 persen, menurut data yang dirilis Badan Pusat Statistik, Senin (6/11). 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal ketiga didorong oleh pertumbuhan ekspor yang signifikan, selain konsumsi rumah tangga yang masih solid, menurut data BPS. Ekspor tumbuh 17,27 persen pada kuartal ketiga, dibandingkan pertumbuhan di kuartal kedua.

Dibandingkan dengan kuartal kedua, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 3,18 persen pada kuartal ketiga (quarter-to-quarter). Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara kumulatif (Januari-September) mencapai 5,03 persen, sedikit melambat dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada periode yang sama pada 2016 yang mencapai 5,04 persen.[fw/au]

NEWS: Menentang Diskriminasi, Pesantren Transgender Indonesia Buka Kembali

anzhuo66.com – Satu-satunya pesantren di Indonesia yang menerima siswa dari kaum transgender ditutup paksa pada Februari 2016, setelah dihujat habis-habisan oleh kelompok Muslim garis keras setempat. Penutupan sekolah ini menjadi salah satu masa tergelap dalam histeria massa menentang LGBT yang lebih besar dan menyita perhatian sepanjang tahun 2016. Dampaknya masih bergema hingga sekarang. 

Bila anda bertanya ke orang-orang di sekitar lingkungan Kotagede yang rimbun di kota pendidikan Yogyakarta, mengenai Pesantren al-Fatah, anda mungkin akan menerima tatapan kosong. Tapi bila anda bertanya di mana “rumah Ibu Sinta,” anda akan segera diantarkan ke sana. Namun untuk Ibu Shinta, tahun 2016 hanyalah seperti cegukan dalam sejarah Pesantren al-Fatah yang akan menginjak usia 9 tahun pada Kamis minggu lalu.

Ibu Shinta, bernama lengkap Shinta Ratri, adalah aktivis transgender berumur 55 tahun yang memindahkan sekolah ini ke rumahnya yang bergaya Jawa pada tahun 2014 ketika pendiri awal sekolah tersebut meninggal. Setelah ditutup selama empat bulan, Ibu Shinta diam-diam membuka pintu Al-Fatah pada bulan Juni 2016 saat bulan Ramadan, yang ia gambarkan sebagai “waktu yang baik untuk beribadah.”

Selain menyediakan tempat untuk kajian agama mingguan, pembukaan kembali sekolah ini memberikan layanan-layanan penyambung hidup dan menjadi tempat kehidupan sosial bagi komunitas transgender setempat. 

Layanan Sosial untuk Waria

Ibu Shinta dan siswa-siswanya dikenal juga dengan sebutan kaum waria. Banyak dari kaum waria bekerja sebagai pekerja seks atau bekerja di salon-salon kecantikan.

Pesantren al-Fatah telah menjadi pusat program pemberdayaan setempat “Transgender Care”, sebuah inisiatif Persatuan Keluarga Berencana Indonesia yang memberikan pelatihan keterampilan, kartu tanda penduduk dan layanan sosial lainnya untuk kaum waria di seluruh Indonesia. 

“Ada juga layanan-layanan yang berhubungan dengan pendidikan seperti memulai “sekolah trans” untuk waria yang mulai beranjak dewasa dan program-program untuk waria manula seperti klinik berjalan dan bantuan makanan,” Ibu Shinta mengatakan kepada VOA. “Lengkap kan? Kami berdoa semoga berjalan lancar.”

Pada acara ulang tahun terakhir, pesantren tersebut menggelar klinik kesehatan gratis yang dihadiri oleh 76 peserta. 

Program “Transgender Care” saat ini beroperasi di delapan provinsi dan Ibu Shinta mengatakan upaya untuk memetakan seluruh peserta dan layanan di seluruh Indonesia adalah tujuan utamanya. 

Kelompok Belajar

Aktivitas pendidikan utama di Al Fatah adalah kelompok kajian mingguan yang diadakan setiap Minggu malam. Dalam kegiatan ini, kaum waria bisa shalat bersama, berdiskusi mengenai teologi Islam dan belajar membaca Alquran.

Dalam satu kesempatan kajian Minggu, ada enam waria yang hadir termasuk Ibu Shinta. Menurut Ibu Shinta, total ada 42 anggota, namun setiap minggu jumlah kehadiran berkisar antara tujuh hingga 25 orang. Seorang mahasiswa universitas setempat membantu Yuni Shara al-Buchory membaca ayat-ayat Alquran. Ketika azan shalat maghrib bergema, mereka mulai memasuki ruang tengan untuk shalat. Ibu Shinta dan Yuni memakai mukena satin, semetara yang lainnya memakai sesuai cara mereka masing-masing. 

“Saya bingung ketika pesantren ditutup selama empat bulan karena tidak ada tempat untuk belajar agama,” kata Yuni Shara. “Saya biasanya keluyuran di kota, bekerja, beli camilan, dan akhirnya saya jadi berpikir: ada sesuatu yang hilang, tapi apa?.” Di masa-masa itu, kata Yuni, ia merasa hidupnya tidak lengkap. 

Namun rasanya salah apabila menggambarkan al-Fatah hanya sebagai tempat tenang untuk belajar, apalagi siswa-siswanya bukan lah remaja seperti di pesantren biasa, melainkan orang-orang dewasa yang sudah bekerja. Sisa enam hari dalam seminggu dan bahkan Minggu malam, pesantren ini adalah tempat berkumpul komunitas waria Yogyakarta. Mereka menonton film bersama, memasak dan makan, serta tak lupa saling bertukar gosip tentang pelanggan-pelanggan mereka.

Tempat ini seperti mengembalikan kenormalan untuk kelompok warga yang hidup di tengah semakin tidak menentunya ruang bermasyarakat. 

Optimis 

Hari ini, Ibu Shinta “sama sekali tidak khawatir” dengan kaum Islamis setempat. Ia hanya fokus membangun jaringan sosial untuk waria dan sekolahnya.

Niat baik dari komunitas setempat mulai meningkat. Ibu Shinta mencontohkan bahwa tahun lalu ia menerima satu kambing sebagai sumbangan Idul Adha dan tahun ini, mereka menerima dua kambing.

“Waria dan kontruksi trans perempuan atau fenomena lainnya  telah ada sejak lama,” kata Dede Oetomo, aktivis hak-hak LGBT yang bermukim di Jawa Timur. “Sebagian besar orang Indonesia mengetahui keberadaan mereka dan  setidaknya bisa mentolerir mereka jika tidak bisa menerima mereka secara penuh, terutama bila mereka bukan anggota keluarganya.”

“Kami adalah penyintas,” kata Ibu Shinta. “Bila ada serangan dan diskriminasi atas kami, ini membuat kami semakin ingin untuk berjuang.” [fw/as]

 

 

NEWS: Jokowi Sampaikan Aksi Nyata Indonesia Untuk Etnis Rohingya

anzhuo66.com – Pemerintah Indonesia mengutuk kekerasan yang dilakukan Pemerintah Myanmar terhadap etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar. Presiden Joko Widodo dalam keterangan persnya di Istana Jakarta Minggu malam (3/9) mendesak kepada Pemerintah Myanmar, agar menghentikan kekerasan pada etnis Rohingya di negara tersebut. Serta memberikan akses pemberian bantuan pada etnis Rohingya di Rakhine.

 

“Saya dan seluruh rakyat Indonesia, kita menyesalkan aksi kekerasan yang terjadi di Rakhine State, Myanmar. Dan sore tadi Menteri Luar Negeri Republik Indonesia telah berangkat ke Myanmar, untuk meminta pemerintah Myanmar agar menghentikan dan mencegah kekerasan, agar memberikan perlindungan kepada semua warga termasuk muslim di Myanmar, dan agar memberikan akses bantuan kemanusiaan,” kata Presiden Jokowi.

 

Jokowi menambahkan, Menlu Retno Marsudi juga ia tugaskan untuk menjalin komunikasi internasional untuk menjalin kerjasama penghentian aksi kekerasan di Myanmar.

 

“Saya telah menugaskan Menteri Luar Negeri menjalin komunikasi intensif dengan berbagai pihak termasuk Sekretaris Jenderal PBB Bapak Antonio Guterres dan Komisi Penasihat Khusus Untuk Rakhine State, Bapak Kofi Annan,” tambah Jokowi.

 

Indonesia lanjut Jokowi telah memberikan bantuan kemanusiaan bagi etnis Rohingya di Myanmar.

 

“Untuk penanganan kemanusiaan aspek konflik tersebut, pemerintah telah mengirim bantuan makanan dan obat-obatan. Ini di bulan Januari dan Februari sebanyak 10 kontainer.  Juga telah membangun sekolah di Rakhine State dan juga segera akan membangun rumah sakit yang akan dimulai bulan Oktober yang akan datang di Rakhine State,” lanjutnya.

 

Pemerintah Indonesia juga telah mengupayakan penanganan pengungsi etnis Rohingya. Baik yang masuk ke Indonesia maupun ke negara lain.

 

Presiden Jokowi menjelaskan,“Indonesia juga telah menampung pengungsi dan memberikan bantuan yang terbaik. Saya juga menugaskan Menteri Luar Negeri untuk terbang ke Dhaka, di Bangladesh, dalam rangka menyiapkan bantuan kemanusiaan yang diperlukan pengungsi-pengungsi yang berada di Bangladesh. Kita harapkan minggu ini kita akan mengirim lagi bantuan makanan dan obat-obatan.”

 

Presiden Jokowi menegaskan, perlu sebuah aksi nyata selain pernyataan kecaman-kecaman atas kekerasan terhadap etnis Rohingya. Dan pemerintah Indonesia lanjut Jokowi berkomitmen  untuk terus untuk membantu mengatasi krisis kemanusiaan, bersinergi dengan kekuatan masyarakat sipil di Indonesia dan juga masyarakat internasional.  

 

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sebelum bertolak ke Myanmar mengatakan Indonesia berkomitmen mengupayakan penghentian aksi kekerasan terhadap etnis Rohingya.

 

Retno mengatakan, “Perjalanan ini adalah perjalanan yang membawa amanah dari masyarakat Indonesia. Agar Indonesia dapat membantu agar krisis kemanusiaan itu dapat segera berakhir” ujar. [aw]