NEWS: Ketidakpastian Membayangi Pemilu Italia Bulan Depan

anzhuo66.com – Italia akan melangsungkan pemilu bulan depan, di tengah meningkatnya pengaruh kekuatan populis di Eropa, dan mantan Perdana Menteri Silvio Berlusconi masih membayangi kancah politik negara itu.

Diperkirakan tidak akan ada partai yang memenangkan suara mayoritas, sehingga ada kemungkinan terbentuk koalisi dengan Berlusconi sebagai “kingmaker.”

Setelah pemungutan suara Brexit 2016 dan bangkitnya golongan ultra kanan di Perancis, Jerman, dan Austria tahun lalu, sekarang perhatian tertuju ke Italia, negara dengan perekonomian terbesar nomor tiga di kawasan Euro.

Menurut jajak pendapat, koalisi antara partai Forza Italia yang berhaluan kanan tengah dan dipimpin Berlusconi dan Liga Utara dan Fratelli d’Italia memimpin dengan 35 persen suara menjelang pemilu 4 Maret.

Partai tunggal terbesar, M5S, menyusul pada urutan dua dengan 28 persen, diikuti partai kiri tengah yang berkuasa, Partai Demokrat, dengan 25 persen, menunjukkan bahwa jutaan pemilih masih belum menentukan pilihan. [ds/sp]

 

 

NEWS: Gagal Lolos ke Piala Dunia 2018, Italia Pecat Pelatih Ventura

anzhuo66.com – Bila Peru dan Australia sedang bersuka ria, Italia harus menelan pil pahit. Untuk pertama kali dalam 60 tahun, tim Azzurri ini gagal berlaga di putaran Piala Dunia 2018 di Rusia, setelah kalah babak playoff melawan Swedia.

Buntut dari kekalahan ini, Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) memecat pelatih tim nasional, Gian Piero Ventura pada Rabu (15/11).

FIGC dalam pernyataan awalnya menyebutkan Ventura “tidak lagi melatih” tim yang sudah empat kali menjadi juara Piala Dunia itu. Federasi tidak menyebutkan apakah Ventura dipecat atau mengundurkan diri.

Namun sumber di FIGC mengatakan kepada Reuters bahwa pelatih berusia 69 tahun itu telah dipecat.

Di luar kebiasaan, FIGC juga tidak mengucapkan terima kasih kepada Ventura atas jasanya, maupun mendoakan kesuksesan dia di masa depan.

Presiden FIGC, Carlo Tavecchio, kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa dia sudah berbicara dengan Ventura dan memberitahunya bahwa “kami sudah tidak lagi membutuhkan jasa dia. Jadi, sejak hari ini, Italia tidak punya pelatih.”

Tavecchio malah menambahkan bahwa dia akan mengadakan pertemuan pada Senin (20/11) untuk mendiskusikan masa depan sepak bola Italia.

“Kami telah melihat beberapa pelatih penting yang bisa menjadi manajer yang baru,” kata dia.

Ventura menggantikan Antonio Conte menyusul Piala Eropa 2016 dan awalnya diberi kontrak dua tahun. Pada Agustus, kontrak Ventura diperpanjang hingga turnamen Piala Eropa 2020 karena FIGC senang dengan kemajuan tim nasional Italia.

Ventura tidak pernah memenangkan gelar kejuaraan penting atau melatih klub papan atas seperti AC Milan, Inter Milan atau Juventus. Dia lebih banyak melatih klub-klub divisi yang lebih rendah, namun dikenal sebagai pelatih bertangan dingin untuk pemain-pemain muda.

Ini adalah pertama kalinya sejak 1958, Italia gagal lolos ke Piala Dunia. [fw/au]

NEWS: UE Janjikan Italia Tambahan Dana untuk Tangani Pengungsi Libya

anzhuo66.com – Pemimpin Uni Eropa menjanjikan dana lebih banyak untuk membantu Italia bekerja sama dengan Libya menghentikan arus migran dari Afrika Utara ke Eropa.

“Kita punya kesempatan nyata untuk menutup rute Mediterania tengah,” kata Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk, kepada wartawan di pertemuan tingkat tinggi di Brussels, Kamis (19/10).

Tusk merujuk pada lautan antara Libya dan Pulau Lampedusa di wilayah Italia yang sangat berbahaya untuk diseberangi. Pulau Lampedusa adalah wilayah Uni Eropa pertama yang disinggahi para migran.

Ribuan migran tewas saat mencoba menyeberangi laut Mediterania menggunakan kapal-kapal yang tidak aman atau setelah ditelantarkan oleh penyelundup manusia. 

Pejabat pemerintahan Italia mengatakan jumlah migran yang meninggalkan daratan-daratan Libya telah menurun sebanyak 20 persen pada 2017, sejak Italia bekerja sama dengan Libya untuk menghentikan arus migran. Kerja sama ini termasuk pelatihan penjaga pantai Libya oleh Italia untuk menertibkan para penyelundup manusia dan menyelamatkan migran yang terdampar di tengah laut.

Italia telah meminta tambahan dana dan bantuan dari Uni Eropa selama beberapa tahun.

“Negara-negara anggota sejauh ini telah berkomitmen memberikan dana senilai 175 juta euro (207 juta dolar). Jumlah ini jelas tidak cukup,” kata Presiden Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker. [fw] 

NEWS: Italia Akan Kirim Patroli ke Pantai Libya Untuk Hentikan Migran

anzhuo66.com – Italia berencana mengirim kapal perang untuk membantu para petugas penjaga pantai Libya melawan penyelundup yang telah mengangkut ribuan migran ke Italia.

Perdana Menteri Italia Paolo Gentiloni mengatakan hari Kamis bahwa langkah itu dapat menjadi “titik balik” dalam krisis migran yang telah mencengkeram Eropa selama berbulan-bulan.

Tahun ini saja, sekitar 100.000 migran dari Afrika, Asia Selatan dan Timur Tengah tiba di Italia, meningkat tujuh persen dari periode yang sama tahun lalu. Lebih dari 2.000 lainnnya meninggal dunia dalam usaha melakukan pelayaran berbahaya .

Karena gagalnya rencana Uni Eropa untuk menyebarkan ribuan migran yang dibawa ke Italia, ke negara-negara lain, Gentiloni mengatakan pemerintahnya akan memberitahu anggota parlemen minggu depan mengenai permintaan Libya agar kapal-kapal angkatan laut Italia untuk berpatroli di pantai Laut Tengah.

Perdana Menteri Libya Fayez Serraj, yang memimpin pemerintah persatuan yang didukung PBB dan berpusat di Tripoli, bertemu di Roma dengan pemimpin Italia tersebut hari Rabu, dan meminta bantuan . Gentiloni mengatakan pemerintahnya sedang menyusun rincian misi angkatan laut.

Kapal-kapal militer dari negara-negara Eropa, kapal-kapal yang diurus oleh organisasi –organisasi bantuan dan kapal kargo komersial sering menyelamatkan laki-laki, perempuan dan anak-anak yang melakukan pelayaran di Laut Tengah yang berbahaya.

Akhir-akhir ini, sebagian besar yang diselamatkan di laut itu adalah migran dari negara-negara negara-negara Afrika karena alasan ekonomi, yang tidak mungkin mendapat suaka.

Krisis migran telah memicu ketegangan antara Italia dan negara-negara Uni Eropa lainnya, yang enggan membagi beban migran yang mengalir ke Italia, meskipun sebagian besar migran itu ingin bermukim di negara-negara Eropa lainnya. (SP/II)