NEWS: IEA: Misi Pemotongan Produksi Minyak OPEC ‘Berhasil’

anzhuo66.com – OPEC dan para sekutunya tampak sudah mencapai misi utama menurunkan persediaan minyak hingga ke tingkat yang diinginkan, Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan, Jumat (13/4), seperti dilansir Reuters.

IEA, yang menyelaraskan kebijakan energi negara-negara industri, mengatakan persedian minyak global di negara-negara maju bisa turun ke rata-rata lima tahun paling cepat pada Mei.

“Bukan bagian kami untuk mengumumkan atas nama negara-negara yang menandatangani kesepakatan Wina bahwa ‘misi berhasil’. Namun jika proyeksi kami akurat, tampaknya seperti itu,” kata IEA dalam laporan bulanannya.

OPEC, yang bermarkas di Wina, bersama dengan Rusia dan produsen lainnya sejak Januari 2017 sudah mengurangi produksi minyak untuk mendorong harga minyak dunia. Bulan ini, harga minyak sudah melonjak di atas $ 70 per barel, hingga memberikan dorongan baru untuk produksi minyak shale AS.

Meski produksi minyak turun di negara anggota OPEC, Venezuela dan produksi masih menghadapi kendala di negara-negara, seperti Libya dan Angola, kelompok pengekspor minyak ini masi memproduksi di bawah target. Artinya, dunia masih harus menggunakan persediaan minyak untuk memenuhi permintaan yang kian meningkat.

Pada Kamis (12/4), OPEC mengatakan stok minyak di negara-negara maju dunia hanya 43 juta barel di atas rata-rata lima tahunan terakhir. IEA yang bermarkas di Paris memproyeksikan 30 juta barel pada akhir Februari.

Kesepakatan pembatasan produksi akan berlaku sampai akhir tahun. OPEC akan bertemu pada Juni untuk memutuskan langkah selanjutnya. Pimpinan OPEC de-facto, Arab Saudi, mengatakan ingin kesepakatan itu dilanjutkan hingga 2019.

Sekretaris-Jenderal OPEC Mohammad Barkindo mengatakan kepada Reuters, Kamis, OPEC dan para sekutunya siap untuk memperpanjang kesepakatan hingga 2019, meski kelebihan pasokan minyak mentah dunia diperkirakan akan mereda pada September. [ft]

NEWS: Majelis Umum PBB Putuskan Pangkas Anggaran Tahunan Misi Perdamaian

anzhuo66.com – Majelis Umum PBB, Jumat (1/7) memutuskan untuk memangkas $ 600 juta dari anggaran tahunan misi perdamaian PBB yang mencapai hampir $ 8 miliar.

Pemangkasan itu adalah berkat tekanan dari pemerintahan Trump yang menyumbang lebih dari seperempat anggaran tahunan misi itu. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga menyarankan PBB melakukan reformasi besar termasuk dalam misi perdamaian.

Misi pemeliharaan perdamaian yang mendukung lebih dari 110 ribu tentara, polisi, dan petugas sipil dalam 16 misi belakangan ini dikecam keras karena pasukan yang tidak disiplin dan terkadang gagal melindungi penduduk sipil dan bahkan ada yang melakukan pelecehan seksual terhadap mereka. Di Haiti pasukan PBB itu disalahkan membawa epidemi kolera menyebabkan ratusan penduduk pulau itu jatuh sakit dan meninggal.

Namun, di samping semua kekurangan dan kelemahannya, ‘topi biru’ sebagaimana pasukan pemelihara perdamaian itu dikenal karena topi bajanya yang berwarna biru, masih memainkan peran penting di negara-negara yang rentan di mana penduduk sipil membutuhkan perlindungan, bantuan kemanusiaan dan institusi yang stabil. [ps/al]