NEWS: AS Keluar dari Perjanjian Nuklir, Saudi Isyaratkan Naikkan Produksi Minyak

anzhuo66.com – Arab Saudi mengisyaratkan, Rabu (9/5), pihaknya mungkin akan menaikkan produksi minyak untuk menutup potensi kekurangan pasokan akibat sanksi baru yang diterapkan terhadap Tehran setelah AS keluar dari perjanjian nuklir dengan Iran, Reuters melaporkan.

Kenaikan harga minyak didukung oleh perkiraan bahwa Trump akan mundur dari kesepakatan nuklir. Langkah ini akan memukul ekspor minyak Iran dan memicu ketegangan di Timur Tengah, yang memasok sepertiga dari pasokan minyak harian dunia.

Arab Saudi “akan bekerja sama dengan produsen-produsen utama dan para konsumen di dalam dan luar OPEC untuk membatasi dampak kekurangan pasokan,” kata seorang pejabat Kementerian Energi Arab Saudi, Rabu, yang dikutip oleh kantor berita pemerintah, SPA.

“Menyusul keputusan AS untuk mundur dari kesepakatan nuklir dengan Iran, Arab Saudi berkomitmen untuk mendukung stabilitas pasar minyak untuk kepentingan para produsen dan konsumen serta keberlanjutan pertumbuhan ekonomi global,” kata pejabat tersebut.

Penurunan ekspor Iran akibat pemberlakuan kembali sanksi AS dan penurunan produksi yang tidak direncanakan di negara-negara anggota OPEC lainnya, artinya pengurangan pasokan minyak OPEC bisa lebih besar dari yang diinginkan. Hal itu meningkatkan kekhawatiran bahwa harga minyak akan naik cepat.

OPEC akan bertemu Juni. Banyak pihak memperkirakan OPEC akan terus melanjutkan pemotongan produksi sampai akhir 2018.

Iran memproduksi 3,8 juta barel per hari minyak atau menyumbang 4 persen pasokan minyak dunia. Negara itu tercatat sebagai negara produsen OPEC terbesar ketiga setelah Arab Saudi dan Irak. [ft]

 

NEWS: Bank Dunia Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi China 2017

anzhuo66.com – Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi China untuk 2017 menjadi 6,8 persen dari proyeksi 6,7 persen yang dibuat pada Oktober, Reuters melaporkan, Selasa (19/12). Konsumsi perorangan dan perdagangan luar negeri mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.

Namun bank yang bermarkas di Washington itu tidak mengubah proyeksi Produk Domestik Bruto (PDB) China untuk 2018 dan 2019, yang tetap pada angka masing-masing 6,4 persen dan 6,3 persen karena kebijakan moneter yang kaku dan upaya pemerintah untuk mengekang kredit.

“Walaupun baru-baru ini ada perlambatan, kredit terus tumbuh lebih cepat dari PDB. Jumlah pinjaman bank yang belum lunas mencapai 150 persen dari PDB pada November 2017, naik dari 103 persen pada akhir 2007,” kata Bank Dunia dalam laporan China Economic Update.

Ekonomi China tumbuh 6,9 persen, lebih cepat dari yang perkirakan, selama sembilan bulan pertama tahun ini. Namun upaya Beijing untuk mengurangi risiko di sektor keuangan telah membuat biaya peminjaman dana naik. Akibatnya, kekhawatiran bahwa hal ini dapat berimbas menurunkan pertumbuhan ekonomi. [fw]