NEWS: Majelis Umum PBB Putuskan Pangkas Anggaran Tahunan Misi Perdamaian

anzhuo66.com – Majelis Umum PBB, Jumat (1/7) memutuskan untuk memangkas $ 600 juta dari anggaran tahunan misi perdamaian PBB yang mencapai hampir $ 8 miliar.

Pemangkasan itu adalah berkat tekanan dari pemerintahan Trump yang menyumbang lebih dari seperempat anggaran tahunan misi itu. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga menyarankan PBB melakukan reformasi besar termasuk dalam misi perdamaian.

Misi pemeliharaan perdamaian yang mendukung lebih dari 110 ribu tentara, polisi, dan petugas sipil dalam 16 misi belakangan ini dikecam keras karena pasukan yang tidak disiplin dan terkadang gagal melindungi penduduk sipil dan bahkan ada yang melakukan pelecehan seksual terhadap mereka. Di Haiti pasukan PBB itu disalahkan membawa epidemi kolera menyebabkan ratusan penduduk pulau itu jatuh sakit dan meninggal.

Namun, di samping semua kekurangan dan kelemahannya, ‘topi biru’ sebagaimana pasukan pemelihara perdamaian itu dikenal karena topi bajanya yang berwarna biru, masih memainkan peran penting di negara-negara yang rentan di mana penduduk sipil membutuhkan perlindungan, bantuan kemanusiaan dan institusi yang stabil. [ps/al]

 

 

NEWS: DK PBB Kutuk Serangan Roket atas Kamp Pasukan Pemelihara Perdamaian di Mali

anzhuo66.com – Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengutuk ” sekeras-kerasnya ” serangan roket terhadap kamp penjaga perdamaian di Mali yang menewaskan satu orang dan melukai sembilan lainnya.

 

Dewan itu menuntut pemerintah Mali segera menyelidiki serangan tersebut dan menyeret orang-orang yang melakukannya ke pengadilan.

 

Berdasarkan hukum internasional, menarget penjaga perdamaian bisa dianggap kejahatan perang.

 

Ekstremis Islam yang menyebut diri mereka Kelompok pendukung Islam dan Muslim mengklaim bertanggung

jawab atas serangan roket hari Rabu di kamp di Timbuktu.

Militan yang terkait dengan Al-Qaida berada di belakang serangan roket lainnya di kamp tersebut tahun lalu.

 

Pasukan penjaga perdamaian PBB dan pasukan Perancis membantu Mali menangani sisa-sisa pemberontak Islam di utara.

Militan mengambil alih sebentar wilayah itu pada tahun 2012 setelah kudeta yang gagal di Bamako.

 

Militan juga menyebar ke Mali selatan, di perbatasan dengan Burkina Faso.

 

Dewan Keamanan menegaskan dukungan penuhnya bagi misi penjaga perdamaian di Mali dan mendesak semua pihak untuk sepenuhnya melaksanakan kesepakatan perdamaian negara itu.[sp]